Minggu, 26 Juni 2011

Pendekatan dalam Pengkajian Sastra M. H. Abrams


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kesusasteraan Indonesia modern memiliki usia yang tergolong muda, sehingga banyak masalah yang timbul dan menghendaki pemecahan untuk menyelesaikannya. Berhubungan dengan hal tersebut, maka ilmu sastra Indonesia (modern) masih belum mendapatkan metode yang tepat dalam penyelesaiannya. Ilmu sastra mempunyai tiga bagian atau tiga cabang, yaitu: teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra (Pradopo, 1988).
Menurut Abrams (dalam Pradopo, 1988) kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan pendefinisian, penggolongan (pengklasifikasian), penguraian (analisis), dan penilaian (evaluasi). Dalam menilai baik-buruk dan bernilai seni atau tidaknya sebuah karya sastra dibutuhkan sebuah kritik sastra. Kritik sastra tersebut tidak lepas dari beberapa pandangan yang berbeda, yang tentunya memberikan hasil yang berbeda pula, meskipun karya sastra yang dinilai adalah karya sastra yang sama.
Dari sejumlah penilaian karya sastra yang ada, pendekatan yang paling populer adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams dengan teori universenya. Pendekatan Abrams tidak lepas dari berbagai macam penilaian yang pernah dilakukan oleh beberapa ahli sebelumnya. Abrams berpendapat bahwa adanya hubungan antara pengarang, semestaan, pembaca, dan karya sastra. Abrams membuat diagram yang terdiri atas empat pendekatan. Pendekatan tersebut meliputi pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Dengan demikian, model Abrams sangat bermanfaat untuk memahami secara lebih baik keanekaragaman teori sastra (Teeuw, 1984).

B.     Rumusan Masalah
Ada dua rumusan masalah yang perlu dikaji dalam makalah ini.
1.      Bagaimanakah pendekatan telaah sastra menurut Abrams?
2.      Pendekatan apa saja yang dikemukakan oleh Abrams?

C.    Tujuan
Berikut ini adalah beberapa tujuan yang akan dicapai setelah mempelajari makalah ini.
1.      Mendiskripsikan bagaimana pendekatan telaah sastra menurut Abrams.
2.      Memaparkan pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams.

D.    Manfaat
Penyusun mempunyai orientasi agar makalah ini dapat bermanfaat, baik secara teoritis maupun secrara praktis.
1.      Manfaat Teoritis
a.       Memperbanyak makalah mengenai kesusastraan.
b.      Sebagai sumber informasi mengenai kesusastraan.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Penulis
Memberikan sumbangan informasi bagi pemakalah dalam membuat makalah khususnya bidang sastra.
b.      Bagi Dosen
Sebagai bahan penilaian terhadap pemakalah atas tugas yang telah diberikannya sebagai bahan presentasi perkuliahan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
1.      Pendekatan Objektif
Pendekatan objektik adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Yang jelas penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya. Karena patokan pendekatan objektif sudah jelas, maka sering sekali pendekkatan ini di sebut dengan pendekatan struktural.

2.      Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai pencipta karya seni. Sejauh manakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi.
Komposisi dan ketepatan peramuan unsur-unsur ekspresif di sini akhirnya menjadi satu unsur sentral dalam penilaian. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.

3.      Pendekatan Mimetik
Pendekatan ini bertolak dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata. Refleksi ini terwujud berkat tiruan dan gabungan imajinasi pengarang terhadap realitas kehidupan atau realitas alam. Hal tersebut didasarkan pandangan bahwa apa yang diungkapkan pengarang dalam karyanya pastilah merupakan refleksi atau potret kehidupan atau alam yang dilihatnya. Potret tersebut bisa berupa pandangan, ilmu pengetahuan, religius yang terkait langsung dengan realitas. Pengarang, melalui karyanya hanyalah mengolah dari apa yang dirasakan dan dilihatnya. Itulah sebabnya ide yang dituangkan dalam karyanya tidak bisa disebut sebagai ide yang original. Semuanya hanyalah tiruan (mimetik) dari unsur-unsur kehidupan nyata yang ada.

4.      Pendektan Prangmatik (Reseptif)
Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Dalam kaitannya dengan salah satu teori modern yang paling pesat perkembangannya, yaitu teori resepsi. Pendekatan pragmatis dipertentangkan dengan pendekatan ekspresif. Subjek pragmatis dan subjek ekspresif, sebagai pembaca dan pengarang berbagi objek yang sama, yaitu karya sastra. Perbedaannya, pengarang merupakan subjek pencipta, tetapi secara terus-menerus fungsi-funsinya dihilangkan, bahkan pada gilirannya pengarang dimatikan. Sebaliknya, pembaca yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang proses kreativitas diberikan tugas utama bahkan dianggap sebagai penulis (rewritten).
Pendekatan pragmatik dengan demikian memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca tersebut. Secara historis (Abrams, 1976: 16) pendekatan pragmatik telah ada tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetica (Horatius). Meskipun demikian, secara teoritis dimulai dengan lahirnya strukturalisme dinamik. Stagnasi strukturalisme memerlukan indikator lain sebagai pemicu proses estetis, yaitu pembaca (Mukarovsky).
Pada tahap tertentu pendekatan pragmatis memiliki hubungan yang cukup dengan sosiologi, yaitu dalam pembicaraan masyarakat pembaca. Pendekatan pragmatis memiliki manfaat terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan dan penyebarluasan, sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan. Dengan indikator pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatis memberikan manfaat terhadap pembaca. Pendekatan pragmatis secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori reseptif, teori sastra yang memungkan pemahaman hakikat karya tanpa batas.
Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis, diantaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik dalam kerangka sinkronis maupun diagkronis. Teori-teori postrukturalisme sebagian besar bertumpu pada kompetensi pembaca, sebab semata-mata pembacalah yang berhasil untuk mengevokasi kekayan khazanah kultural bangsa.

BAB III
SIMPULAN

Kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan pendefinisian, penggolongan (pengklasifikasian), penguraian (analisis), dan penilaian (evaluasi). Dalam menilai baik-buruk dan bernilai seni atau tidaknya sebuah karya sastra dibutuhkan sebuah kritik sastra. Kritik sastra tersebut tidak lepas dari beberapa pandangan yang berbeda, yang tentunya memberikan hasil yang berbeda pula, meskipun karya sastra yang dinilai adalah karya sastra yang sama. Salah satu pandangan tersebut adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams, yaitu pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatis.

DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rachmat Djoko. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Lukman.

Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Fananie, Zainuddin. 1997. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

1 komentar:

  1. terimakasih ya untuk tulisannya :) sangat berguna untuk saya sebagai mahasiswa sastra Indonesia :)

    BalasHapus