Minggu, 26 Juni 2011

Karakteristik Morfologis Bentuk Pasif

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Analisis kesalahan berbahasa ialah sebuah proses yang didasarkan pada analisis kesalahan orang yang sedang belajar dengan objek yang jelas. Jelas, dimaksudkan sesuatu yang telah ditargetkan. Sedangkan objek yang dipelajari adalah bahasa. Analisis bahasa terutama dikenakan pada bahasa yang sedang ditargetkan. Analisis kesalahan sangat berguna sebagai alat pada awal-awal dan selama tingkat-tingkat variasi program pengajaran bahasa target dilaksanakan (Sri Hastuti: 1989).
Kesalahan tidak hanya dilakukan pada bahasa lisan saja, namun pada bahasa tulis juga. Salah satunya adalah kesalahan bidang morfologi. Kesalahan bidang morfologi berhubungan dengan tata bentuk kata. Morfologi  merupakan satu sistem dari suatu bahasa dalam arti luas, sehingga struktur kata yang senantiasa membentuk kalimat-kalimat tentu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan jenis kata atau makna kata yang dikehendaki oleh penutur atau penulisnya. Morfologi memiliki keleluasaan dalam proses pembentukan morfem, kata, dan kombinasi-kombinasinya baik pada kategori morfem bebas maupun terikat (Rohmadi, dkk. 2009: 3).
Dalam penggabungan morfem satu dengan morfem yang lain, ada yang mempunyai karakteristik morfologis bentuk aktif dan ada yang mempunyai karakteristik bentuk pasif.

B.     Rumusan masalah
Ada dua rumusan masalah dalam makalah ini yang perlu dibahas.
1.      Apa yang dimaksud dengan proses morfologis?
2.      Apa saja morfem yang membentuk karakteristik morfologis bentuk pasif?
3.      Bagaimana karakteristik morfologis bentuk pasif?

C.    Tujuan
Berikut ini merupakan tujuan yang akan dicapai dalam mempelajari makalah ini.
1.      Mendefinisikan pengertian proses morfologi.
2.      Mengklasifikasikan morfem yang membentuk karakteristik morfologis bentuk pasif.
3.      Mendeskripsikan morfologis bentuk pasif.

D.    Manfaat
Makalah ini memberikan kontribusi (manfaat) baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.      Manfaat Teoretis
a.       Memperbanyak makalah mengenai analisis kesalahan berbahasa khususnya mengenai karakteristik morfologis bentuk pasif.
b.      Sebagai sumber informasi mengenai morfologis bentuk pasif.
2.      Manfaat Praktis
Makalah ini memberikan sumbangan informasi dan pengetahuan terhadap semua pembaca mengenai morfologis bentuk pasif.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Proses Morfologi
Proses morfologis adalah peristiwa (cara) pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Di dalam proses morfologis, yang menjadi bentuk terkecil adalah morfem dan bentuk terbesarnya adalah kata (Rohmadi, dkk: 2009).
Proses morfologis yang merupakan pembentukan kata-kata dengan jalan menghubungkan morfem yang satu dengan yang lainnya itu bentuk dasarnya mungkin berupa pokok kata, kata dasar, bentuk kompleks, frase, kata dan pokok kata, atau berupa pokok kata dengan pokok kata.

B.     Morfologis Bentuk Pasif.
Berdasarkan identifikasi data bentuk pasif yang terdapat pada teks terjemahan Al-Qur’an yang mengandung etika berbahasa ditemukan berbagai bentuk morfologis. Bentuk morfologis yang dimaksud adalah: (1) pasif dengan di-V dengan variasi, (2) pasif bentuk ter-, dan (3) pasif bentuk zero. Di samping itu, ditemukan pasif imperatif.

1.      Pasif di-Verba- dengan Berbagai Variasi
Berdasarkan bentuk morfologisnya, pasif bentuk di- dapat dikelompookan menjadi: (1) pasif bentuk di-, (2) pasif bentuk di-/-kan, (3) pasif di-/-I, dan (4) pasif bentuk di-R.
a.      Pasif di-Verba
Pasif ini ditandai penggunaan imbuhan di- diikuti verba tanpa mendapatkan akhiran. Verba yang ditemukan adalah verba dipakai, ditulis, diberi, dipanggil, diminta, dilarang, dan dibalas. Masing-masing verba memiliki perilaku yang berbeda. Verba dipakai surat kedua, ayat ke-71, dan lafal/kata ke-3 (2: 71) 3 sebagai konstituen pengisi frasa nominal (:sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah), begitu pula verba ditulis (2: 79) 5. Verba ditulis tersebut sebagai pengisi frasa nominal, yakni akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri.
Kata diberi pada data (5: 41) 11 mestinya diikuti kata sesuatu, tetapi kata tersebut dilesapkan. Jika ditulis secara lengkap, data (5: 41) 11 tampak seperti (5: 41) 11 (a).
Verba diberi yang lainnya lagi (21: 45) menghadirkan nomina (: frasa nominal), yakni peringatan dan diberi pada data (22: 24) 1 diikuti kata petunjuk kepada Allah dan Rasul-Nya.
(2: 71) 3 bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah.
(2: 79) 5 maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri,
(5: 41) 11 dan jika kamu diberi yang bukan ini,
(5: 41) 11 (a) dan jika kamu diberi (sesuatu) yang bukan ini,
(21: 45) 4 apabila mereka diberi peringatan.”
(22: 24) dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik.

Oleh Ramlan (1983: 106) dijelaskan bahwa sebagian besar bentuk dasar kata berafiks di- berupa pokok kata. Dalam data kata berafiks di- diisi banyak pola kata, yakni beri untuk diberi, panggil untuk dipanggil, minta untuk diminta, timpa untuk ditimpa, larang untuk dilarang, dan balas untuk dibalas.
Bentuk dasar verba berafiks di- berupa pokok kata, yakni pakai dalam dipakai, tulis dalam ditulis, dan  beri dalam diberi.

b.      Pasif Bentuk di-Verba-kan
Pasif bentuk di-/-kan adalah konstruksi pasif yang didalamnya terdapat verba berimbuhan di-v-kan. Verba yang ditemukan adalah dikatakannya, disembunyikan, dijadikan, diciptakan, disampaikan-Nya, disedihkan, diberikan, diterangkan,, diwahyukan, dan diturunkan.
(2: 79) 2 lalu dikatakannya
(3: 118) 6 dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.
(4: 5) 2 (harta kamu)yang dijadikan Allah untuk kamu sebagai pokok kehidupan
(4: 171) 4 dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya.

Berdasarkan kehadiran pelakunya, pasif bentuk di- ada yang diawali subjek. Pasif yang subjeknya diawali oleh ini dalam bahasa Indonesia yang lain (yang bukan terjemahan) tidak lazim. Pasif seperti ini jumlahnya tidak banyak. Data yang ada adalah  (5: 41) 1 berikut.
(5: 13) 5 dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka diperingatkan dengannya,
(5: 41) 1 “Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedih-kan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihat-kan) kekafirannya,

Dalam bahasa Indonesia pasif di- biasanya dipakai untuk menandai aktivitas yang dilakukan oleh orang ketiga dan orang ketiga itu tidak perlu disebutkan lagi karena telah diganti dengan bentuk di-.

c.       Pasif di-Verba-i
Bentuk pasif di-V-i adalah bentuk pasif yang secara morfologis ditandai penggunaan imbuhan di- diikuti verba pangkal dan akhiran ­–i.
(22: 24) 2 dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji.

Verba yang berimbuhan di-/-i tidak banyak dijumpai dalam ayat etika. Berdasarkan pembacaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009: 904) diketahui bahwa kata tunjuk dapat dibentuk verba polimorfemik, baik menunjukkan maupun menunjuki. Akankah bentuk aktif selalu memiliki imbangan bentuk pasif, seperti menunjukkan dengan ditunjukkan dan menunjuki dengan ditunjuki?.
Afiks –i dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa makna, yakni (1) ‘perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang’ (seperti mengambil ‘berulang-ulang mengambil, mengguntingi ‘berulang-ulang menggunting, dan membuangi ’berulang-ulang membuang), (2) ‘memberi apa yang tersebut pada bentuk dasar  pada….’ (seperti mengatapi (rumah) ’memberi atap pada (rumah), menyampuli (buku)  ‘memberi sampul pada (buku)), (3) objeknya menyatakan ‘tempat’ (seperti menulisi ’menulis di…’, melempari ‘melempari ke….’, dan menanami ‘menanam di….’), (4) menyatakan makna ‘kausatif’ (seperti mengotori (kamar saya), memanasi (kakinya), dan memerahi (bibirnya) Ramlan (dalam Markamah, 2010: 195).

d.      Pasif diper-/-kan
Pasif ini ditandai penggunaan imbuhan di-, per, -kan. Jumlah data yang akan ditemukan tidak banyak. Imbuhan per- pada (2: 204) 3 mengubah unsur Allah yang semula sebagai tujuan berubah menjadi pelaku. Apabila imbuhan yang digunakan tidak menggunakan per, bentuknya akan seperti data (2: 204) 3 (a).
(2: 204) 3 dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya,
(2: 204) 3 (a) dan disaksikan Allah (kebenaran) isi hatinya,
(5: 13) 5 dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka diperingatkan dengannya,

e.       Pasif Bentuk di-Reduplikasi
Pasif bentuk ini adalah pasif yang secara morfologis ditandai penggunaan bentuk di- diikuti oleh reduplikasi. Bentuk pasif ini datanya tidak banyak, hanya ada satu data.
(5: 41) 9 “jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu,

Verba dirobah-robah merupakan bentuk reduplikasi yang berasal dari di-ubah> diubah. Dalam pemakaian kata diubah sering diucapkan atau diganti dengan dirubah. Agaknya bentuk itu dikira berasal dari rubah mendapat imbuhan di-. Dari dirubah kemudian menjadi dirobah. Selanjutnya, dari dirobah diulang sebagian menjadi dirobah-robah. Verba pasif dirobah-robah tidak diikuti nomina sebagai pelengkapnya, tetapi diikuti pelaku.
Pasif Bentuk di-R-kan dan pasif diper-R-kan  merupakan wujud pasif bentuk di-lainnya.

f.       Pasif Bentuk di-Reduplikasi-kan
Pasif ini ditandai pemakaian imbuhan di- diikuti reduplikasi dan akhiran –an. Namun demikian, reduplikasi di sini termasuk reduplikasi seru karena bentuk dasarnya adalah kata olok-olok. Dari bentuk ini kemudian ditambah imbuhan di-/-kan pada data (49: 11) 2 dan diper-/-kan pada (49: 11) 3. Pasif bentuk ini tidak banyak ditemukan pada teks terjemahan Al-Quran yang mengandung etika berbahasa.
(49: 11) 2 (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan).
(49: 11) 3 dan jangan pula wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita  (yang mengolok-olok).

Karena diawali partikel yang, pasif bentuk ini tidak diikuti nomina sebagai pelengkap. Pertikel yang menjadikan verba diolok-olokkan dan diperolok-olokkan sebagai ajektiva. Prefiks per- pada diperolok-olok mempunyai makna ‘kausatif’.

2.      Pasif Bentuk ter-
Pasif bentuk ter- adalah pasif yang ditandai pemakaian awalan ter- diikuti kata dasar atau pokok kata. Pasif bentuk ini tidak banyak ditemukan pada teks terjemahan Al-Quran. Hanya ada satu data pasif bentuk ter- yang mengisi predikat. Bandingkan ter- pada tertinggal dengan ter- pada termasuk!
(48:11) 1 Orang-orang Badui yang tertinggal akan mengatakan, “ Harta dan keluarga kami”.
            (90:17) 1 Dan dia termasuk orang-orang yang beriman.
Verba tertinggal berasal dari prefik ter- ditambah pokok kata kerja tinggal. Pada kata tertinggal prefiks ter- bermakna menyatakan perbuatan yang tidak sengaja. Kedua verba itu posisinya dalam kalimat bukan sebagai predikat, melainkan sebagai atribut nomina yang ada didepannya. Kata tertinggal bersama-sama dengan yang (: yang tertinggal) menjadi atribut orang-orang Badui.
Adapun ter- pada termasuk mengandung makna ‘aspek perfektif’. Makna dia termasuk orang-orang yang beriman memiliki makna ‘dia sudah dimasukkan orang-orang yang beriman’.

3.      Pasif Bentuk Zero
Pasif Zero adalah bentuk pasif yang tidak ditandai penggunaan imbuhan di- atau ter-, tetapi ditandai persona ditambah pokok kata kerja. Persona yang ditemukan adalah persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga.
Contoh:
(5: 13) 2 Kami kutuk  mereka
(5: 13) 3 Dan Kami jadikan hati mereka keras membantu
(6: 108) 3 Demikianlah Kami jadikan bagi setiap umat mereka…..
(6: 112) 1 Dan demikian itulah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh
(7: 161-162) 7 Niscanya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kamu
(7: 161-162) 9 Maka kami timpakan kepada mereka azab dari langit
(24: 15-18) Dan kamu katakan dengan mulut-mulut kamu
(46: 15) 1 Kami pemerintahkan kepada manusia

4.      Pasif Bentuk Persona
a.      Pasif Bentuk Persona I + Pokok Kata Kerja 
Persona pertama ini ada yang berupa persona Allah,  ada yang bukan Allah. Persona pertama yang berhubungan dengan Allah ada yang menggunakan kata Kami dan ada yang menggunakan kata Aku. Data (2: 40) 1 dan (2: 40) 3 persona yang digunakan Aku. Aku anugerahkan merupakan satu kesatuan yang merupakan perpaduan antara pelaku dan pokok kata kerja.
(2: 40) 1. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu
(2: 40) 3. Niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.
Persona pertama lainnya yang menyatakan Allah yang terdapat pada pasif bentuk ini adalah Kami. Data-data yang ditemukan dinyatakan berikut ini.
(5: 13)    2 Kami kutuk mereka
(5: 13)    3 dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.
(6: 108) 3 Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka
(6: 112) 1 “Dan demikian itulah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh, Persona Kami diikuti pokok kata kerja kutuk dan pokok kata kerja ditambah –kan jadikan.

b.      Pasif Bentuk Persona II + Pokok Kata Kerja
Pasif bentuk ini ditandai penggunaan persona II ditambah pokok kata kerja. Pokok kata kerjanya ada yang diikuti sufiks dan ada yang tidak diikutinya. Berikut adalah data-data pasif bentuk persona II + pokok kata kerja yang ditemukan pada objek penelitian.
(2: 42) 2 dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu,
(3: 118) 2 janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan kamu orang-orang yang di luar kalanganmu.
(6: 152) 11 agar kamu ingat”.
(17: 110) 3 Dengan nama yang sama saja kamu seru.
(24: 15-18) 2 dan kamu katakan dengan multu-mulut kamu,
(24: 53) 7 sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(46: 15) 9 (Nikmat) yang telah Engkau berikan kepadaku.
(46: 15) 10 Dan (Nikmat yang telah Engkau berikan kepada ibu bapakku
(46: 15) 11 dan supaya (aku) dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai,
(46: 15) 12 (Engkau) berilah kebaikan kepadaku
(49: 11) 5 dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Ada dua wujud persona II yang digunakan pada pasif bentuk ini, yakni kamu dan Engkau. Kamu dipakai untuk pelaku manusia, sedangkan Engkau dipakai untuk menyatakan pelaku Tuhan/ Allah. Adapun pokok kata kerjanya ada yang diikuti sufiks dan ada yang tidak diikuti sufiks. Ada juga yang pokok kata kerjanya berupa gabungan kata. Sufiks yang mengikuti pokok kata kerja ada dua macam, yakni sufiks-kan dan ­-i. kehadiran kedua sufiks tersebut bersifat wajib. Artinya, pada data-data kamu katakan, kamu kerjakan, Engkau berikan, dan Engkau ridhai, kehadiran sufiks-kan dan –i tidak dapat dihilangkan. Jika dihilangkan, konstruksi kalimat/ klausa yang bersangkutan tidak gramatikal dan tidak berterima.
Sufiks itu dalam BI menuntut peran objektif (penderita) yang umumnya berupa nomina nonmanusia berada di depan verba. Hal ini terutama dalam konstruksi kalimat/ klausa deklaratif. Misalnya, jika data (24: 15-18) 2 hadirkan, nomina objektifnya tampak seperti (24: 15-18) 2(b). berita bohong berada di depan verbanya.
(24: 15-18) 2 (b) dan (berita bohongitu) kamu katakan dengan mulut-mulut kamu,

Hal yang sama juga terjadi pada data (46: 15) 9 dan (46: 15) 10. Artinya, pada data kedua data terakhir nomina objektif juga berada di depan verba.
Pada bentuk pasif persona II ini juga ditemukan konstruksi persona II ditambah verba yang tidak menggunakan sufiks.
(3: 118) 2 janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan kamu orang-orang yang di luar kalanganmu.
(6: 152) 11 agar kamu ingat”.
(17: 110) 3 Dengan nama yang mana saja kamu seru.

c.       Pasif Bentuk Persona III + Pokok Kata Kerja
Pasif bentuk ini terdiri atas persona III ditambah pokok kata kerja. Pokok kata kerjanya ada yang diikuti dengan sufiks-kan (ini yang paling banyak), sufiks-i dan ada yang tidak menggunakannya. Disamping itu, ada yang pokok kata kerjanya berupa bentuk ulang, yakni ada-ada. Persona III yang digunakan semuanya bentuk jamak, yakni mereka. Adapun verbanya adalah kerjakan, ucapkan, katakan, nyatakan, dan masuki.
            (2: 79) 7 akibat yang mereka kerjakan.
(5: 63) 5 Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan.
(5 :85) 1 Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan
(6: 108) 1 Dan janganlah kamu memakai sembahan-sembahan yang mereka ucapkan
(6: 112) 5 lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.

Kehadiran sufiks-kan dan –i bersifat wajib hadir. Jika sufiks itu tidak dihadirkan kontruksi yang bersangkutan merupakan kontruksi yang tidak berterima. Sebagai bukti, dapat dilihat pada data-data berikut yang sufiknya dihilangkan.
(2: 79) 7 (a) * Akibat apa yang mereka kerja.
(5: 63) 5 (a) * Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerja.
(5: 85) 1 (a) * Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucap
(6:108) 5(a) * Lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerja.
(6:112) 8 (a) * dan apa yang mereka ada-ada.

C.    Karakteristik Morfologis Bentuk Pasif
Di bawah ini merupakan tabel Karakteristik Morfologis Bentuk Pasif.
No.
Morfologis Bentuk Pasif
Karakteristik
1
Pasif di-Verba
o   Sebagai konstituen pengisi frasa nominal
2
Pasif di-Verba-kan
o   Menandai aktifitas yang dilakukan oleh orang ketiga
3
Pasif di-Reduplikasi-kan
o   Tidak diikuti nomina sebagai pelengkap
4
Pasif ter-
o   Dalam kalimat tidak sebagai predikat, melainkan sebagai atribut nomina yang ada didepannya.

BAB III
SIMPULAN

A.    Proses morfologis adalah peristiwa (cara) pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Di dalam proses morfologis, yang menjadi bentuk terkecil adalah morfem dan bentuk terbesarnya adalah kata.

B.     Berdasarkan identifikasi data bentuk pasif yang terdapat pada teks terjemahan Al-Qur’an yang mengandung etika berbahasa ditemukan berbagai bentuk morfologis. Bentuk morfologis yang dimaksud adalah: (1) pasif dengan di-V dengan variasi, (2) pasif bentuk ter-, dan (3) pasif bentuk zero. Di samping itu, ditemukan pasif imperatif.

C.     Pasif di-Verb mempunyai karakteristik sebagai konstituen pengisi frasa nominal, Pasif di-Verba-kan menandai aktifitas yang dilakukan oleh orang ketiga, Pasif di-Reduplikasi-kan tidak diikuti nomina sebagai pelengkap, dan Pasif ter- dalam kalimat tidak sebagai predikat, melainkan sebagai atribut nomina yang ada didepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hastuti, Sri. 1989. Sekitar Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: PT. Mitra Gama Widya

Markhamah dan Atiqa Sabardila. 2010. Analisis Kesalahan dan Karakteristik Bentuk Pasif. Surakarta: Jagad Abjad.

Rohmadi, Muhammad, Yakub Nasucha, dan Agus Budi Wahyudi. 2009. Morfologi “Telaah Morfem dan Kata”. Surakarta: Yuma Pustaka.

Tim Balai Pustaka. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar